oleh

Danramil 0804-13/ Bendo ajak generasi muda untuk cinta dan melestarikan budaya tradisional

MAGETAN | JAWA TIMUR, Dalam rangka peringatan tahun baru 1441 Hijriyah Pemerintah Desa Bulugledeg dan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Desa Bulugledeg menggelar pertunjukan wayang kulit bersama Ki Dalang Alek Budi Sabdo Utomo dari Kendal dengan Lakon Wisanggeni duto. Acara wayang kulit  tersebut digelar di Depan Balai Desa Bulugledeg Kecamatan Bendo Provinsi Jawa Timur dihadiri Danramil 0804-13/ Bendo Kapten Inf Sarpan bersama Forkopimca Bendo sebagai bentuk ikut serta melestarikan dan memberi contoh kepada masyarakat terutama generasi muda untuk lebih cinta budaya tradisional. (Rabu, 11/09)

Budaya tradisional wayang kulit sudah ada semenjak zaman nenek moyang kita, Namun seiring berjalannya waktu,  kisah pewayangan sedikit demi sedikit menjadi kurang populer dan kurang diminati oleh generasi muda. Hal ini  disebabkan oleh munculnya berbagai macam alat hiburan lainnya, seperti  acara televisi, internet, radio, komik,  buku dan lain sebagainya. Dimana  pengaruh budaya dari luar sangatlah  berperan besar, sehingga menyebabkan budaya wayang kulit jadi terlihat membosankan dan kuno.  Hal inilah yang membuat rasa cinta  dan rasa ketertarikan mereka  terhadap budaya wayang mulai luntur,  serta keinginan untuk melihat pertunjukan wayang pun semakin berkurang.

Danramil 0804-13/ Bendo mengatakan bahwa wayang kulit merupakan peninggalan berharga dari nenek moyang yang ternyata telah berusia lebih dari lima abad. Sebuah seni pertunjukan yang sampai detik ini masih diminati oleh banyak orang. Dan tentunya masih menyimpan sejuta pesan dibalik kesederhanaannya. Pertunjukan wayang kulit, tidak lepas dari peran seorang dalang. Dalang tidak hanya mempertunjukkan keunikan wayang kulitnya saja, tetapi dengan wayang kulit seorang dalang berusaha untuk selalu menyampaikan berbagai pesan berharga untuk kita ambil manfaatnya. Tema yang diambil oleh seorang dalang harus tepat untuk disampaikan kepada generasi muda. Agar sebuah budaya tradisional yang saat ini semakin terpinggirkan oleh kemajuan zaman akan diminati dan dicintai oleh masyarakat khususnya generasi muda.

“Wayang merupakan pertunjukkan yang mengingatkan kita sebagai generasi muda bahwa betapa pentingnya sebuah bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa. Salah satu usaha pelestarian budaya tradisional adalah harus mengetahui Bahasa Jawa. Penggunaaan Bahasa Jawa juga dapat mendidik budi pekerti seorang anak sejak usia dini. Terbiasa berkata sopan dan lemah lembut kepada siapapun. Selain itu, Bahasa Jawa juga merupakan garis besar budaya tradisional. Oleh karena itu, jika kita ingin budaya kita maju, alangkah lebih baiknya jika kita sebagai generasi muda senantiasa memelihara serta melestarikan budaya tradisional termasuk Bahasa Jawa”. Imbuh Kapten Inf Sarpan. (tsr13)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed