oleh

Babinsa Koramil 0804-13/ Bendo Dan Warga Terus Lestarikan Budaya Lokal

MAGETAN, Serma Roni Kuswanto Babinsa Kelurahan Bendo ikut hadir dalam kegiatan Bersih Desa. Kegiatan bersih desa atau orang jawa sering menyebutnya “Nyadran” yang dilaksanakan satu kali setiap tahunnya, merupakan wujud budaya lokal yang terus dilestarikan oleh masyarakat khususnya masyarakat jawa. Tidak terkecuali masyarakat Kelurahan Bendo Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan tetap melestarikan budaya bersih Desa tesebut. Ini tampak terlihat guyubrukun mulai dari Perangkat Kelurahan dan masyarakatnya bersama-sama melaksanakan rangkaian kegiatan bersih desa tersebut dengan membawa aneka makanan ke punden untuk mengikuti acara selamat dan doa makan bersama. (Sabtu, 14/09)

Dalam kegiatan Bersih Desa atau juga sering disebut Sedekah Bumi merupakan budaya lokal yang perlu terus dilestarikan untuk kesadaran ekologis manusia agar paham dengan alam dan manusia yang secara sadar peduli dengan keadaan alam. Yang menarik adalah masyarakat kita dahulu begitu menghargai alam. Hal ini terbukti dengan adanya ritual bersih desa dan sampai sekarang tetap di lestarikan, sebagai bentuk atau wujud penghormatan manusia terhadap alam. Serta untuk mempersatukan seluruh masyarakat dalam satu wadah yang di anggap sakral ini untuk bersatu memanjatkan doa dan rasa syukur atas limpahan rahmat dan rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Slamet Kepala Kelurahan Bendo dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat untuk selalu mengingat para leluhur yang menjadi cikal bakal Kelurahan Bendo Ini. Dan pada kesempatan yang baik ini, Kepala Kelurahan mengajak seluruh warga Kelurahan Bendo untuk berdoa bersama, semoga arwah para leluhur yang mendirikan Desa ini mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.  Seluruh warga masyarakat Kelurahan Bendo selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT. Seluruh warga mendapat nikmat kesehatan dan diberi kelancaran rezeki yang melimpah, serta di jauhkan dari Malapetaka dan Bencana.

Rangkaian prosesi kegiatan bersih desa setelah sambutan-sambutan,  dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama desa setempat. Setelah doa kemudian acara dilanjutkan dengan makan bersama dari makanan yang sudah dibawa warga untuk saling menukar menu makanan, ini sebagai wujud kebersamaan tidak memandang orang kaya maupun miskin dan memandang strata maupun golongan, mereka berbaur menjadi satu untuk makan bareng. Setelah acara makan-makan bersama selesai, dilanjutkan hiburan yaitu berupa budaya tradisional langen tayub dimana seluruh warga yang hadir dengan pergantian menari bersama sinden, sehingga masyarakat terlihat kompak dan guyub rukun. (R13)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed