oleh

Warga Desa Tegalarum Gelar Bersih Desa Yang Dihadiri Babinsa Serda Giyoto

Magetan, Acara bersih desa atau orang jawa sering menyebutnya “Nyadran” yang dilaksanakan satu kali setiap tahunnya merupakan wujud budaya lokal yang terus dilestarikan oleh masyarakat khususnya masyarakat jawa. Tidak terkecuali masyarakat Desa Tegalarum Kecamatan Bendo tetap melestarikan budaya bersih Desa. Ini tampak terlihat masyarakat dan perangkat Desa serta Babinsa Desa Tegalarum Serda Giyoto guyub rukun datang ke punden Desa melaksanakan acara Prosesi Bersih Desa tersebut.

Manusia dan alam merupakan hubungan dua elemen seakan tak bisa lepas satu sama lain. Hubungan simbiosis keduanya pun menjadi keniscayaan. Namun dalam perkembangan manusia modern, alam seakan menjadi objek untuk meneguhkan dan meneruskan kehidupan manusia. Alam yang rusak, sampah dimana-mana, berimplikasi kepada banyaknya bencana alam yang memakan banyak korban jiwa.

Disinilah diperlukan kesadaran ekologis manusia untuk paham dengan alam. Manusia yang secara sadar peduli dengan alam. Yang menarik adalah masyarakat kita dahulu begitu menghargai alam. Hal ini terbukti dengan adanya ritual bersih desa dan sampai sekarang tetap di lestarikan, sebagai bentuk atau wujud penghormatan manusia terhadap alam. Serta untuk mempersatukan seluruh masyarakat dalam satu wadah yang di anggap sakral ini untuk bersatu memanjatkan doa dan rasa syukur atas limpahan rahmat dan rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepala Desa Tegalarum dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat untuk selalu mengingat para leluhur yang menjadi cikal bakal Desa Tegalarum Ini. Dan pada kesempatan yang baik ini Kepala Desa mengajak berdoa bersama smoga para arwah para leluhur mendapat tempat terbaik di sisi Alloh SWT, Dan seluruh masyarakat Desa Tegalarum slalu mendapat Kesehatan dan kelancaran rezeki yang melimpah. Serta di jauhkan dari Malapetaka dan Bencana.

Rangkaian kegiatan bersih desa dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama desa setempat. Kemudian acara makan bersama sebagai wujud kebersamaan tidak memandang orang kaya maupun miskin dan memandang strata maupun golongan, berbaur menjadi satu. Setelah acara makan-makan dilanjutkan hiburan budaya tradisional langen tayub dengan pergantian seluruh masyarakat menari dengan sinden, sehingga masyarakat terlihat kompak dan guyub rukun. (R13)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed